Menjadi Guru Anak Berkebutuhan Khusus: Antara Tantangan dan Ketulusan

Menjadi guru yang mengajar, mendidik, dan membina anak berkebutuhan khusus mempunyai tantangan tersendiri. Guru perlu melatih kesabaran dan empati yang tinggi. Hal ini merupakan hal yang wajar, mengingat anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang unik bila dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Masing-masing anak memerlukan penanganan yang berbeda dalam pembelajarannya. Sebut saja si Mega, dia mempunyai kebiasaan unik belajar sambil menggambar hewan kesukaannya, dia tidak akan merespon instruksi kecuali guru menggambarkan hewan kesukaannya terlebih dahulu, dan uniknya Mega dengan begitu cepat menguasai beberapa huruf abjad dan menyalin huruf dengan mudahnya. Pengalaman seperti ini adalah salah satu pengalaman menarik yang pernah dialami oleh guru yang mengajar di sekolah inklusi atau sekolah khusus lainnya.
Yang patut kita renungkan, bagaimana kita dapat mengajar dengan penuh empati dan kesabaran? tidak ada cara lain adalah kita sebagai pendidik harus menyelami dan memahami anak berkebutuhan dengan hati. Seluruh tenaga, waktu, dan pikiran, kita optimalkan untuk lebih responsif terhadap kebutuhan dan karakteristik yang sesuai dengan kebutuhannya. Selain metode dan strategi yang tepat dalam mengajar, mengajar dengan hati juga mempunyai andil yang sangat penting dalam keberhasilan pembelajaran anak berkebutuhan khusus.
Mengajar dengan hati mempunyai dampak yang sangat positif untuk keberhasilan tersebut, menurut Roorda, D. L., Koomen, H. M., Spilt, J. L., & Oort, F. J. (2011) dalam penelitiannya yang berjudul: “The influence of affective teacher–student relationships on students’ school engagement and achievement: A meta-analytic approach, dijelaskan bahwa relasi hangat dan suportif antara guru dan siswa dapat meningkatkan keterlibatan dan prestasi untuk siswa berkebutuhan khusus.
Mengajar anak berkebutuhan khusus memang penuh tantangan akan tetapi sarat dengan makna. Kita hadir tidak hanya merencanakan pembelajaran yang efektif untuk siswa tetapi mengajar dengan hati tak kalah pentingnya untuk siswa berkebutuhan khusus. Hubungan yang hangat antara guru dan siswa berkebutuhan khusus pada dasarnya tidak terlepas dari rasa cinta dan empati yang tinggi yang tentunya akan melibatkan hati nurani setiap guru. Dengan hubungan yang harmonis akan menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman untuk siswa dengan berkebutuhan khusus, sehingga prestasi belajar dan tumbuh kembang siswa akan tercapai dengan maksimal.
Jadi, sudah siapkah mengajar dengan hati?

About skabinaanggitamagelang

View all posts by skabinaanggitamagelang →